Jumat, 03 Februari 2012

Song


Malam itu seharusnya malam sebelum aku ujian akhir EM.

Dan, tentunya, malam itu seharusnya aku habiskan dengan belajar.

Tapi banyak hal random yang bermunculan di kepalaku dan akhirnya aku pun terlibat dalam beberapa diskusi tentang hal-hal random tersebut. Mulai dari mengapa saat Valentine tampak warna pink di mana-mana, apakah Sailor Pluto masih perlu ada sekalipun Pluto bukan lagi planet, dan membahas multilanguage pada lagu akhir-akhir ini.

Khusus untuk topik terakhir, seorang teman tiba-tiba memunculkan pernyataan kalau suatu hari nanti bisa jadi ada program yang langsung menerjemahkan lagu Korea menjadi lagu Jepang sehingga penyanyi tidak perlu take vocal dua kali. Hal ini mengacu pada tren artis Korea yang akhir-akhir ini banyak yang ingin debut di Jepang sehingga mereka membuat Japanese version dari lagu mereka. Tapi yang disayangkan adalah Japanese version hanyalah sebatas lagu tersebut diterjemahkan menjadi bahasa Jepang. Itu saja. Tidak ada yang baru. Tidak ada lagu yang dibuat khusus untuk memulai debut di Jepang.

Tapi tentu saja tidak semua artis Korea seperti itu. Ada juga yang memang khusus membuat lagu berbahasa Jepang dan tidak ada embel-embel Japanese version atau dibuat versi Korea-nya kelak. Terkadang Japanese version atau lagu-lagu debut berbahasa Jepang ini cukup dapat meredam kerinduan para fans artis Korea yang juga suka lagu Jepang (seperti aku). Hehe.

Lalu aku berpikir, bagaimana kalau ada fans Korea-Jepang yang cinta negeri membuat lagu? Bisa jadi lagunya nanti terdiri dari 4 bahasa sekaligus (ditambah bahasa Inggris). Jepang dan Korea sendiri sejak awal sudah sering memasukkan kata-kata bahasa Inggris dalam lagu-lagu mereka. Mungkin suatu saat nanti akan ada lagu 4 bahasa sekaligus yang dibuat oleh fans.

Bahasan tentang multilanguage ini membuatku teringat sebuah lagu anak-anak yang pernah aku dengar saat kecil dulu. Not the good one, tapi karena lirik dan videonya cukup 'aneh' aku jadi mengingatnya dengan baik (oh damn...). Lirik lagunya seperti ini:
"Sukurin, rasain, wo ai ni, ni hao ma, mahoni..."
Dulu saat masih kecil aku ingat pernah bertanya pada orangtuaku, "Apa itu wo ai ni, ni hao ma, dan mahoni?" dan kemudian aku menyadari itu bahasa Mandarin (kecuali mahoni yang ternyata nama pohon). Sekarang aku baru menyadari betapa anehnya lirik lagu ini. Apa coba hubungan 'sukurin, rasain' dengan 'wo ai ni, ni hao ma,  mahoni'? I don't get it. Apakah mereka sedang bermain shiritori (permainan sambung kata)? Dan keanehan itu semakin tampak saat aku mengingat bagian awal lagu itu:
"Pale si botak dicium unta gare-garenye mencuri siomay"
....semakin aneh, bukan?

Temanku berkomentar, "Jadi kalau dulu ada peringatan, 'Nak, jangan mencuri timun, nanti dimarahi pak tani' sekarang juga ada peringatan, 'Nak, jangan nyuri siomay juga, nanti kepalanya dicium onta', gitu?" LOL!

Sebenarnya lagu anak-anak juga tidak seburuk itu. Ada juga beberapa lagu anak-anak yang bagus seperti yang dinyanyikan Trio Kwek Kwek, Sherina, Tasya, dll. Tapi itu duluuu sekali, sampai kemudian seiring berjalannya waktu mereka bertambah dewasa dan lagu-lagu mereka tergeser oleh anak-anak yang tidak bisa menyanyi tapi tetap nekat muncul di TV dengan lirik lagu yang aneh (btw, masih ada yang ingat lagu 'Tikus Makan Sabun' kah?). Seingatku, setelah era lagu-lagu aneh itu tadi lagu anak-anak semakin jarang dan akhirnya hampir tidak ada.

Atau boleh lah kita bilang sudah punah.

Anak-anak jaman sekarang menyanyikan lagu orang dewasa. Anak-anak jaman sekarang nyanyi lagu cinta. Padahal aku dulu waktu masih kecil selalu merasa malu tiap kali menyanyikan lagu cinta. Aku selalu merasa aku belum pantas menyanyikan lagu orang dewasa seperti itu sehingga aku tidak mendengarkan lagu cinta sampai lulus SD.

Tapi kalau dilihat perkembangan lagu anak-anak yang seperti itu aku jadi bingung, mana yang lebih baik untuk mereka? Bicara cinta atau menyanyikan lagu aneh yang tidak masuk akal dan (bisa jadi) mengajarkan yang nggak bener?

Sekarang aku benar-benar merindukan sosok komposer lagu anak-anak yang bermutu yang dapat menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia nanti dengan lagu-lagunya yang mendidik. Ada kah?

5 komentar:

  1. Ih bener banget. Dulu jaman kita kecil, Agnes Monica sama Sherina juga masih kecil, jadi lagu-lagunya masih nyambung sama umur. Lah kok seiring kita bertumbuh jadi remaja, nggak ada artis kecil yang bermunculan ya? Padahal kalo tiap generasi punya artis cilik sendiri-sendiri, nggak akan gini-gini banget nyanyian anak kecil.

    Untung keponakan saya mah masih nyanyi lagu "Sayang Mamah... Sungguh luaaar biasa" yang belom pernah saya denger sebelumnya hahaha.

    BalasHapus
  2. Yap! Kadang aku ngerasa gimana gitu waktu di perempatan jalan liat anak kecil yang kira-kira masih SD ngamen nyanyiin lagu "Kupu-Kupu Malam". Memangnya nggak ada lagu yang pas buat mereka ta? Adikku pun masih SD tapi lagunya cinta-cintaan (yang kemudian aku belokkan ke lagu2 Jepang dan Korea, muahahaha!).

    Tapi beberapa hari yang lalu aku lihat di twitter ada akun namanya @lagu_anak yang katanya ditujukan untuk menyelamatkan generasi muda dengan lagu-lagu yang sesuai dengan umurnya. Semoga aja berhasil ya. ^^

    BalasHapus
  3. Menarik sekali tulisan anda..
    blognya juga keren..
    oh iya..salam kenal sebelumnya...
    Saya kak Zepe. Saya pencipta lagu anak.
    lagu2 ciptaan saya banyak dipakai oleh guru2 TK dan PAUD...
    Semua karya saya , sudah saya publikasikan di blog saya.
    silakan berkunjung ke
    http://lagu2anak.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kunjungannya ke blog ini, kak Zepe. Saya senang ternyata masih ada pencipta lagu anak. Semoga karya-karyanya bisa membuat generasi muda menjadi lebih baik.

      Hapus
  4. Plis kasih tau judul lagu sukurin rasain wo ai ni itu apa. Sama kalau ada link ke youtube nya plissss

    BalasHapus